FOSS (Free and Open Souce Software) & Proprietary

Apa Itu FOSS (Free and Open Source Software)?

FOSS

Free and Open Source Software (atau disingkat FOSS) adalah sebutan untuk perangkat lunak yang dapat dengan bebas digunakan, dipelajari, disalin, diubah sesuai kebutuhan, disebarluaskan kembali, dan kode sumbernya terbuka sehingga memungkinkan pengguna untuk ikut mengembangkan. Hal ini berbanding terbalik dengan Proprietary Software (perangkat lunak milik individu), di mana pengembang cenderung membatasi kontrol pengguna terhadap perangkat lunak dan menutup kode sumbernya.

FOSS juga seringkali ditulis FLOSS (Free/Libre and Open Source Software). Kata ‘Libre’ (yang dalam bahasa Perancis berarti ‘bebas’) ditambahkan untuk menegaskan bahwa FOSS memiliki arti ‘Perangkat Lunak Bebas dan Sumber Terbuka’, bukan ‘Perangkat Lunak Gratis dan Sumber Terbuka’.

Konsep Free Software (Perangkat Lunak Bebas)

Konsep ini mengacu pada kebebasan penggunanya untuk menjalankan, menyalin, menyebarluaskan, mempelajari, mengubah, dan meningkatkan kinerja perangkat lunak. Sebuah program (perangkat lunak) dikategorikan sebagai Free Software jika penggunanya memiliki 4 kebebasan dasar, yaitu:

  • Kebebasan untuk menjalankan program sesuai keinginan serta untuk tujuan apapun.
  • Kebebasan untuk mempelajari bagaimana program itu bekerja dan menyesuaikannya dengan kebutuhan.
  • Kebebasan untuk menyebarluaskan kembali salinan program tersebut sehingga dapat membantu orang lain.
  • Kebebasan untuk menyebarluaskan salinan program hasil modifikasi sendiri sehingga orang lain dapat menikmati manfaatnya.

Konsep ini digagas oleh Richard Matthew Stallman pada tahun 1983 ketika ia meluncurkan proyek GNU, sebuah proyek pengganti sistem operasi UNIX yang menghormati kebebasan penggunanya.

Konsep Open Source Software (Perangkat Lunak Sumber Terbuka)

Konsep ini memungkinkan pengguna untuk memeriksa, memodifikasi, dan meningkatkan kinerja perangkat lunak karena kode sumbernya terbuka (dapat diakses oleh siapapun). Ketentuan distribusi Open Source Software harus sesuai dengan 10 kriteria berikut:

  • Bebas Didistribusikan Kembali. Lisensi tidak akan membatasi pihak mana pun dari menjual atau memberikan perangkat lunak sebagai komponen dari agregat distribusi perangkat lunak yang berisi program dari beberapa sumber yang berbeda.
  • Kode Sumber. Program harus menyertakan kode sumber dan harus mengizinkan distribusi dalam kode sumber serta bentuk yang dikompilasi.
  • Karya Turunan. Lisensi harus mengizinkan modifikasi dan karya turunan, dan harus mengizinkannya didistribusikan di bawah ketentuan yang sama dengan lisensi perangkat lunak asli.
  • Integritas Kode Sumber Pencipta. Lisensi harus secara eksplisit mengizinkan distribusi perangkat lunak yang dibangun dari kode sumber yang dimodifikasi.
  • Tidak Ada Diskriminasi Terhadap Seseorang atau Kelompok. Lisensi tidak boleh mendiskriminasi seseorang atau sekelompok orang.
  • Tidak Ada Diskriminasi Terhadap Bidang Usaha. Lisensi tidak boleh membatasi siapapun dari memanfaatkan program untuk bidang usaha tertentu.
  • Distribusi Lisensi. Hak yang melekat pada program harus berlaku untuk semua kepada siapa program ini didistribusikan ulang tanpa perlu pelaksanaan lisensi tambahan oleh pihak-pihak lain.
  • Lisensi Tidak Boleh Spesifik untuk Suatu Produk. Hak yang melekat pada program tidak boleh bergantung pada program yang menjadi bagian dari distribusi perangkat lunak tertentu.
  • Lisensi Tidak Boleh Membatasi Perangkat Lunak Lain. Lisensi tidak boleh menempatkan pembatasan pada perangkat lunak lain yang didistribusikan bersama dengan perangkat lunak berlisensi.
  • Lisensi Haruslah Teknologi-Netral. Tidak ada ketentuan lisensi yang dapat didasarkan pada teknologi atau gaya antarmuka tertentu.

Konsep ini digagas oleh Bruce Perens dan Eric S. Raymond pada tahun 1998 tidak lama setelah Netscape merilis kode sumber program mereka ke publik (yang salah satu programnya kini berkembang menjadi peramban web Mozilla Firefox).

Lisensi FOSS

Karena kebebasan yang dimiliki, FOSS sering kali dianggap sebagai perangkat lunak ‘nirlisensi’ (tanpa lisensi). Hal tersebut sepenuhnya salah karena FOSS tetap memiliki lisensi yang mengatur dan melindungi perangkat lunak. Beberapa lisensi yang paling sering digunakan pada FOSS, antara lain:

  • Apache License (contoh: Android Studio)
  • GNU General Public License (GPL) (contoh: Audacity, GIMP)
  • GNU Lesser General Public License (LGPL) (contoh: 7-Zip, VLC Media Player)
  • MIT License (contoh: Atom, VSCodium)
  • Mozilla Public License (contoh: LibreOffice, Mozilla Firefox)

Manfaat menggunakan FOSS

Selain kebebasan yang telah disebutkan, ada beberapa manfaat lain yang bisa didapatkan ketika menggunakan FOSS, antara lain:

  • Lebih Aman. Tidak ada 100% perangkat lunak yang aman, namun keterbukaan yang dimiliki FOSS membuat setiap celah keamanan dapat dilacak dan ditutup dengan cepat. Selain itu, potensi perangkat lunak mengandung program berbahaya (malware) juga dapat diminimalisir karena setiap pengguna bisa ikut memeriksanya.
  • Lebih Stabil. Keterbukaan yang dimiliki FOSS juga membuat setiap bug dapat diketahui dan diperbaiki dengan cepat. Bahkan, alih-alih hanya sekadar melaporkan temuan bug, pengguna juga dapat memperbaiki bug tersebut sendiri dan mengirimkan perbaikannya kepada pengembang.
  • Minim Biaya. Sebagian besar perangkat lunak berlabel FOSS bisa didapatkan secara gratis hanya dengan mengunduhnya di internet. Setelah diunduh, perangkat lunak tersebut bisa disebarluaskan kembali kepada siapapun yang ingin menggunakan.

Apa itu Proprietary Software?

Proprietary software, kadang disebut perangkat lunak berbayar, perangkat lunak sumber tertutup, perangkat lunak proprieter atau perangkat lunak berpemilik adalah perangkat lunak dengan pembatasan terhadap penggunaan, penyalinan, dan modifikasi yang diterapkan oleh proprietor atau pemegang hak.

Pembatasan perangkat lunak milik perorangan membuatnya menjadi antonim dari perangkat lunak bebas. Oleh perangkat lunak milik perorangan, hukum yang sama yang digunakan oleh perangkat lunak milik perorangan digunakan untuk mempertahankan kebebasan untuk menggunakan, menyalin, dan memodifikasi perangkat lunak.

Perangkat lunak tak bebas mencakup freeware dan shareware. Perangkat lunak ini dapat berupa perangkat lunak komersial, meskipun perangkat lunak domain publik dan perangkat lunak bebas lainnya juga dapat dijual untuk suatu harga tertentu dan digunakan untuk tujuan komersial.

Contoh dari proprietary Software

Contoh proprietary software dari dua jenis platform sistem operasi proprietary terpopuler di dunia yaitu Windows dan Mac ditulis dalam tabel berikut. Dicontohkan software terpopuler di sini semata untuk mempermudah pengenalan.

Platform Windows Platform Mac
Kategori Nama Software Nama Software
Sistem operasi Microsoft Windows Apple Mac OS X
Office suite Microsoft Office Apple iWork
Word Processor Microsoft Word Apple Pages
Spreadsheet Microsoft Excel Apple Numbers
Presentation Microsoft PowerPoint Apple Keynote
Email client Microsoft Outlook Apple Mail
Web browser Internet Explorer Apple Safari
IRC client mIRC Snak
Bitmap image editor Adobe Photoshop Adobe Photoshop
Vector image editor CorelDRAW Adobe Illustrator
Desktop publishing Adobe InDesign Adobe InDesign
Audio player Nullsoft Winamp Apple iTunes
Video player Windows Media Player Apple QuickTime Player
Video editor Adobe AfterEffects Apple Final Cut Studio
Audio editor Adobe Audition Adobe Audition
3D CAD Autodesk AutoCAD Autodesk AutoCAD
3D modeller Autodesk 3D Studio Max Lightwave
Game content delivery Valve Steam Valve Steam
Cache cleaner utility Piriform CCleaner CleanMyMac
Antivirus Grisoft AVG Grisoft AVG
Game Half-Life 2 Half-Life 2
Text editor Microsoft Notepad TextEdit
Advanced text editor Sublime Text TextMate
Integrated development environment Microsoft Visual Studio Apple Xcode

Yang menyebabkan sebuah software menjadi Proprietary adalah Lisensinya. Lisensi di dalam proprietary software umumnya disebut dengan istilah End User License Agreement (EULA). Lisensi proprietary software atau EULA ini jumlahnya sangat banyak akibat umumnya setiap satu software memiliki EULA sendiri-sendiri. Satu nama produk yang sama dengan tahun rilis berbeda bisa memiliki EULA berbeda pula. Bahkan bisa jadi vendor membuat lisensi baru setiap kali membuat satu produk software. EULA dari Microsoft Office berbeda dengan EULA dari Adobe Photoshop, dan seterusnya. Di luar itu ada juga vendor yang memberlakukan satu EULA untuk semua produknya. Sebagai pembanding, jumlah lisensi free software jauh lebih sedikit karena umumnya banyak free software berbeda memakai satu lisensi yang sama. Para developer free software tidak membuat lisensi baru setiap kali membuat suatu software, melainkan biasanya memakai salah satu lisensi yang sudah ada yang dianggap paling baik untuk semua atau beberapa software karyanya.

Perbedaan Proprietary Software dan Free Software?

Proprietary software adalah antonim free software. Terdapat ciri-ciri yang membedakan keduanya. Berikut ini tabel perbedaan antara keduanya.

Kategori Proprietary Software Free Software
Empat kebebasan software diberikan secara utuh dan bersamaan? Tidak Ya
Software boleh dijual ulang oleh pengguna? Tidak Ya
Software boleh digunakan untuk tujuan apa pun secara mutlak? Tidak Ya
Software boleh didistribusikan ulang kepada pengguna lain secara mutlak? Tidak Ya
Software menyertakan source code? Tidak Ya
Software boleh dimodifikasi oleh pengguna secara mutlak? Tidak Ya
Software boleh dipelajari secara mutlak? Tidak Ya
Software dianggap sebagai property (hak milik pihak tertentu)? Ya Tidak
Software dikembangkan dengan metodologi terbuka (open) dan kooperatif (cooperative)? Tidak Ya
Software boleh diubah lisensinya oleh pengguna? Tidak, mutlak Ya jika noncopyleft, tidak jika copyleft

Perbandingan FOSS dan Proprietary (Biaya Lisensi)

Proprietary Or FOSS

  • Linux atau GNU/Linux: berlisensi FOSS (Free/Open Source Software) GPL sehingga tidak ada biaya lisensi,  kecuali program tambahan yang tidak FOSS.
  • Distro Linux (misal Ubuntu) sudah menyertakan berbagai  software (aplikasi, middleware, dll.) berlisensi FOSS.
  • Windows: Harga lisensi ratusan ribu hingga jutaan rupiah, belum termasuk software aplikasi.
  • OS X: Harga lisensi ratusan ribu, belum termasuk software aplikasi. OS X biasanya dijual bersama  hardware, sehingga harga lisensi tidak terlihat.
  • Android sebagai sistem operasi dipaket dengan aplikasi yang tidak semua FOSS, dan dijual satu paket dalam  penjualan hp/tablet/laptop, sehingga harga lisensi  Android tidak terlihat atau nol (gratis). Widget Frosting.
  • Windows Phone: Meskipun tidak FOSS, harga lisensi juga tidak terlihat karena dijual satu paket dengan hp.
  • iOS: Seperti Android dan Windows Phone, meskipun tidak semua FOSS, harga lisensi tidak terlihat karena  dijual satu paket dengan hp/tablet.

Perbandingan FOSS dan Proprietary (Usability)

  • Windows dan OS X relatif lebih mudah digunakan karena biasanya dijual satu paket dengan komputer.
  • Linux sama mudahnya dengan Windows dan OS X jika sudah terpasang secara lengkap ketika komputer dijual  satu paket dengan Linux. Contoh: laptop ChromeBook.
  • Linux memiliki banyak varian atau distro, mulai dari yang mudah hingga yang relatif sulit karena pengguna  harus menginstal program/aplikasi sendiri.
  • Pengguna yang sudah terbiasa menggunakan Windows akan berpikir Linux atau OS X sulit, dan sebaliknya.

Mengapa Android mudah digunakan ?

  • Android dijual satu paket dengan hardware (HP/Tablet), langsung dapat digunakan mengakses ke internet untuk  menambahkan program/aplikasi secara mudah pula.
  • Karena Android tidak memiliki banyak varian. Berbeda dengan GNU/Linux yang memiliki banyak varian  (distro) terutama dengan adanya distro yang menuntut  proses instal program melalui terminal, sehingga  pengguna awam “kesulitan” menggunakan GNU/Linux.
  • Turunan Android seperti CynogenMod juga memiliki menu/tampilan serupa, sehingga tetap dinilai mudah.

Reabilitas dan Stabilitas

  • Linux dibuat dengan meniru Unix yang telah terbukti reliabel atau dapat dinyalakan dalam waktu lama  tanpa masalah.
  • OS X dibuat dari Unix BSD yang reliabel sehingga OS X setara dengan Linux dari sisi reliabilitas.
  • Windows relatif kurang reliabel karena awalnya didesain untuk desktop, namun Windows semakin  dibuat reliabel untuk mengejar ketertinggalannya dari  Linux/Unix.

Ketersediaan Aplikasi

  • Secara umum, Linux, Windows, dan OS X telah dilengkapi berbagai aplikasi yang banyak dibutuhkan  untuk bekerja sehari-hari. Namun beberapa pengembang  software hanya membuat produk untuk Windows dan  OS X, misal sebagian game, sehingga ketersediaan  jumlah game di Linux masih kalah dari Windows.
  • Sebaliknya untuk kebutuhan server dan jaringan, ketersediaan aplikasi di Linux jauh lebih banyak.
  • Demikian pula ketersediaan aplikasi Android, jauh mengalahkan Windows Phone dan iOS.

Dukungan terkait Hardware

  • Linux: para pengembang Open Source menyediakan dukungan terhadap banyak jenis dan spesifikasi  hardware, mulai dari hardware lama atau spesifikasi  rendah hingga hardware terbaru.
  • Windows dan OS X: lebih ditujukan untuk hardware terbaru sehingga tidak cocok untuk hardware lama atau  spesifikasi rendah.
  • Kekurangan Linux: Beberapa vendor hardware hanya memberi dukungan driver untuk Windows dan OS X.
  • Android: didukung banyak vendor hardware yang tergabung dalam Open Handset Alliance (Samsung, LG,  Sony, Motorola, HTC, Asus), serta vendor hardware dari  China dan Taiwan untuk vendor dari negara-negara yang  tidak memiliki pabrik chip seperti Indonesia.
  • Windows Phone: didukung sedikit vendor selain Microsoft (penerus Nokia).
  • iOS: Hanya didukung satu vendor, Apple.
  • ChomeOS, Ubuntu, Tizen, SailFish yang berbasis Linux baru didukung beberapa vendor, karena masih baru.

Perbandingan dari Segi Keamanan

  • Android: didukung banyak vendor hardware yang tergabung dalam Open Handset Alliance (Samsung, LG,  Sony, Motorola, HTC, Asus), serta vendor hardware dari  China dan Taiwan untuk vendor dari negara-negara yang  tidak memiliki pabrik chip seperti Indonesia.
  • Windows Phone: didukung sedikit vendor selain Microsoft (penerus Nokia).
  • iOS: Hanya didukung satu vendor, Apple.
  • ChomeOS, Ubuntu, Tizen, SailFish yang berbasis Linux baru didukung beberapa vendor, karena masih baru.

Ketersediaan Kode Sumber (Source Code)

  • Kode sumber (source code) Linux dan berbagai aplikasi utama tersedia bebas (FOSS), demikian pula  Android, sehingga cepat berkembang dan  menghasilkan produk baru yang lebih baik, misal  Android diubah menjadi CynogenMod, MIUX, dll.
  • Windows, Windows Phone, OS X, dan iOS tidak sepenuhnya Open Source sehingga pengguna sangat  bergantung kepada pengembang utama (Microsoft dan  Apple), karena tidak tersedia kode sumber di internet.

Ketersediaan Support (Dukungan Teknis)

  • Dukungan teknis secara penuh (termasuk modifikasi atau pembuatan perbaikan) Linux/Android dapat disediakan  oleh vendor (misal RedHat Inc. dan Google) atau siapa  saja yang mampu menyediakannya.
  • Dukungan teknis secara penuh Windows dan OS X/iOS hanya dapat disediakan oleh vendor/pengembangnya  (Microsoft dan Apple).
  • Persamaan: Dukungan teknis Android dan Linux lainnya, Windows, serta OS X/iOS dapat diperoleh secara gratis  dari komunitas/internet.

Pengalaman Penggunaan FOSS dan Proprietary

Pengalaman saya pribadi dalam penggunaan aplikasi open source menurut saya cukup menyenangkan, karena aplikasi open source itu berlisensi GPL “General Public Licence” yang artinya saya sebagai pengguna tidak dikenakan biaya untuk software tersebut. Sejauh ini saya menggunakan software open source seperti Mozilla firefox, Thunderbird, MySql, Xampp dan masih banyak yang lainnya. Intinya menyenangkan dalam penggunaan software open source karena free alias tidak berbayar .

            Pengalaman saya dalam penggunakan proprietary software sejauh ini menurut saya ada kelebihan dan kekurangannya, dari definisi proprietary software merupakan software yang dilindungi oleh hak cipta dari penyalahgunaan dan penggunaan tidak resmi. Intinya proprietary software ini adalah lisensi yang berbayar untuk menggunakan suatu softwarenya contohnya seperti varian os windows yang merupakan sebuah proprietary software, keuntungan dari proprietary software ini cukup banyak dari mulai Interface yang sangat baik hingga disupport oleh perusahaan pembuat aplikasi, namun memiliki kekurangan seperti aplikasi tidak bisa digandakan dan lainnnya.

Nah dari sudut pandang saya antara open source dan proprietary sama-sama membantu user dalam pemenuhan kebutuhan aplikasi. Tinggal user yang menentukan ingin yang gratis atau yang berbayar , tentu masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya.

Referensi :

https://www.gnu.org/philosophy/floss-and-foss.html

https://www.gnu.org/philosophy/free-sw.html (en, id)

https://www.fsf.org/about/what-is-free-software

https://opensource.com/resources/what-open-source

https://opensource.org/osd

https://www.fsf.org/licensing/education

https://opensource.org/licenses

https://id.wikipedia.org/wiki/Perangkat_lunak_milik_perorangan

https://malsasa.wordpress.com/2016/04/07/apa-itu-proprietary-software/

Rusmanto, Diktat Kuliah Pengantar Open Source dan Aplikasi. Depok: Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s